Keadaan alam Indonesia kini sudah
tidak dapat diprediksi lagi. Terutama dalam hal cuaca dan iklim. Pasalnya, sejak
tahun 2013, iklim di Indonesia sudah tidak stabil. Tidak sama seperti pada
zaman dulu dan hitungan menurut ilmu tentang iklim. Iklim hujan dan panas tidak
lagi memiliki waktu masing-masing 6 bulan. Namun, bisa saja 3 bulan atau 6
bulan lebih. Atau saja dalam 6 bulan, bisa terjadi iklim hujan dan panas secara
bersamaan. Iklim tiap daerah pun juga sekarang mulai sangat berbeda. Pada satu
daerah terjadi musim hujan yang berkepanjangan, namun di daerah lain, terjadi
musim panas yang berkepanjangan. Ini membuktikan bahwa bumi kita sudah mulai
semakin tua,panas, dan rapuh akibat global
warming.
Bisa kita lihat, memasuki bulan
Februari lalu, hujan berkepanjangan dengan intensitas yang besar terjadi
dimana-mana. Apalagi pada kota Jember. Akibat
iklim yang tidak menentu tersebut, hampir setiap hari turun hujan. Itupun kadang
disertai dengan angin yang kencang. Curah hujannya pun tergolong besar. Dan pada
siang harinya, cuacanya di Jember sangat panas. Akibat dari hujan itulah,
beberapa tempat di Jember mengalami kerusakan. Utamanya kerusakan pada jalanan
yang terkena banjir. Selain itu, banjir juga mengakibatkan dampak yang merugikan
bagi masyarakat sekitarnya.
Sebenarnya apa sih
yang dimaksud dengan perubahan iklim? Bagaimana perubahan iklim itu bisa
terjadi?
Perubahan iklim ini terjadi karena
adanya pemanasan global. Pemanasan global terjadi karena energi dari matahari
dalam bentuk panas dan cahaya, memanaskan bumi sehingga suhu meningkat. Sebagian
dari panas ini dikembalikan ke angkasa. Tetapi sebagian besar terperangkap oleh
molekul-molekul gas rumah kaca(seperti CO2, metana(CH4), N2O) dan mengakibatkan
naiknya suhu bumi, berubahnya iklim, mengancam kesehatan, ekonomi, dan
lingkungan sekitar kita. Perubahan iklim sendiri diartikan sebagai perubahan jangka
panjang berbagai faktor iklim, seperti suhu dan hujan.
Bagaimana akibat dari perubahan iklim di daerah Jember?
Perubahan iklim mengintensifkan sirkulasi air
pada atas dan bawah dalam permukaan tanah. Mengakibatkan lebih sering terjadi
kekeringan dan banjir yang lebih parah dan lebih luas cakupannya. Di Jember, banjir
setinggi 1 meter yang terjadi pada desa Rambigundam di kecamatan Rambipuji dan
desa Jubung di kecamatan Sukorambi. Selain itu, juga terjadi banjir pada sawah di
4 kecamatan di daerah Jember, yaitu kecamatan Puger, Gumukmas, Umbulsari, dan
Kencong. Sebagian besar, banjir menimpa tanaman padi dan sayuran. Banjir juga
terjadi pada daerah sekitar jalan Mastrip. Namun, terkadang banjir yang terjadi
juga disertai dengan angin badai yang mengakibatkan banyak pohom-pohon yang
tumbang dan menjatuhi rumah-rumah sekitar, bahkan kendaraan bermotor yang
lewat. Banjir-banjir ini terjadi karena sempitnya dan kurangnya saluran air,
saluran irigasi yang tidak berfungsi maksimal, dan kebiasaan masyarakat sekitar
tidak membuang sampah pada tempatnya.
2. RUSAKNYA
INFRASTRUKTUR dan LALU LINTAS
Banjir pada daerah jalan Mastrip dan Rambii di
Jember, mengakibatkan infrastruktur jalan tersebut rusak total. Jalanan beraspal
yang mulus dan tidak pernah terjadi kecelakaan, sekarang mulai terjadi banyak
kecelakaan. Lalu lintas pada dua daerah tersebut juga terganggu dikarenakan
banjir yang cukup tinggi.
3. KERUGIAN PANEN
Sawah-sawah di beberapa kecamatan di Jember yang
terkena banjir itu, mengakibatkan petani gagal panen. Pasalnya bahwa tanaman
yang ditanam di sawah pada 4 kecamatan itu, baru berumur satu minggu. Jadi para
petani pun dirugikan karena tanamannya banyak yang mati.
4. KURANGNYA AIR
BERSIH
Inilah dampak yang paling dirasakan pada
masyarakat sekitar yang terkena banjir. Kurang tersedianya air bersih. Apalagi untuk
kebutuhan MCK.
Sayangnya, kesadaran masyarakat sekitar dan
pemerintah daerah Jember terhadap dampak yang ditimbulkan oleh banjir kurang. Buktinya
yang paling terlihat yaitu tidak adanya pembetulan terhadap infrastruktur
jalanan sekitar jalan Mastrip. Mereka terlalu
tidak peduli terhadap dampak yang ditimbulkan oleh banjir tersebut. Padahal dampak
itu meresahkan dan merugikan mereka.
Lalu bagaimanakah solusi dalam mengatasi dan
mencegahperubahan iklim khususnya banjir di Jember ini?
- Promosikan penghentian penggundulan hutan, dengan demikian emisi kabon dioksida bisa dikurangi.
- Ukur dan kurangi emisi karbon yang kita timbulkan, yang paling mudah adalah dengan menghemat energi dan air. Pelajari tips bagaimana menghemat energi dan mengatasi Perubahan Iklim.
- Dukunglah mereka yang mempromosikan pelestarian lingkungan dan pencegahan Perubahan Iklim. Ini bisa kita lakukan dengan ikut berperanserta di dalamnya ataupun dengan menyumbangkan sejumlah dana kepada organisasi mereka.
- Membuat saluran air, selokan, dan saluran irigasi pada sawah lebih luas dan kuat menampung air lebih banyak lagi. Hal ini bertujuan agar tidak ada lagi air yang meluap ke jalanan karena sempitnya selokan. Atau tidak ada lagi saluran irigasi yang jebol akibat tidak kuatnya dalam menampung banjir di sawah.
- Tidak membuang sampah sembarangan. Tanamkan hidup disiplin pada diri sendiri.
- Meningkatkan kepedulian diri terhadap lingkungan sekitar dan terhadap sesama. Hal ini dilakukan agar dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim tersebut dapat terkurangi.
namun yang terpenting adalah bagaimana kedisiplinan kita terhadap diri kita sendiri dan lingkungan, kepedulian kita terhadap sesama, dan kerjasama kita dalam membantu meringankan dampak dalam perubahan iklim! jadi, ayo kita sebagai warga Indonesia, jadikan perubahan iklim ini sebagai perubahan yang positif. bukan malah menegatifkan bumi kita. terimakasih!
.jpg)


0 komentar:
Posting Komentar